Sabtu, 09 Juni 2012

Seni Kriya



 Klasifikasi Karya Seni Rupa
           Keragaman seni rupa etnis dari masing-masing daerah di wilayah Nusantara mengalami perkembangan yang pesat secara teoritis, berdasarkan fungsi aplikasinya seni rupa Nusantara dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu seni rupa murni estetis (fine art) dan seni rupa yang dimanfaatkan untuk macam-macam kepentingan praktis (applied art use).
a.  Karya seni rupa murni (Fine art)
           Pengertian seni rupa murni, yaitu sebuah ekspresi, penjabaran, atau pengungkapan pikiran sekaligus perasaan, cita-cita yang hasil karyanya semata-mata hanya memberikan kepuasan batiniah atau rohaniah.
           Tujuan pokok penciptaan seni murni adalah untuk kepentingan estetis atau tujuan ekspresi dan apresiasi tanpa dikaitkan dengan kebutuhan praktis. Oleh karena itu, seni rupa murni diciptakan semata-mata untuk ekspresi bagi kepentingan estetis dan bukan untuk hal-hal lain yang berkaitan dengan fungsional praktis. Jenis karya seni rupa yang termasuk dalam karya seni rupa murni antara lain:
1)         Seni lukis
2)  Seni patung
3)  Seni grafis
4)  Seni kriya
b.        Seni rupa terapan (Applied art)
           Karya seni rupa yang digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari dan bentuk karyanya tetap memiliki nilai-nilai estetik disebut seni rupa terapan. Pembuatan karya seni rupa terapan selalu mempertimbangkan dua hal sekaligus, yaitu nilai keindahan dan nilai fungsional.
           Ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam proses pembuatan karya seni terapan di antaranya adalah hasil karya tersebut harus fungsional. Artinya, karya seni itu dapat dipakai untuk kepentingan praktis. Bentuk karya seni itu pun perlu disesuaikan dengan fungsinya. Sebagai contoh ketika membuat wadah untuk benda-benda yang keras, tentu aspek bentuk yang menjadi pertimbangan akan berbeda ketika membuat rancangan untuk sebuah wadah benda cair.
           Karya seni rupa terapan antara lain seni dekorasi, seni bangunan, seni ilustrasi, seni grafis terapan, dan seni kriya terapan.
2.  Pengertian Seni Kriya
           Jika ditinjau dari bahasa, kriya adalah pekerjaan yang dilakukan dengan tangan, sedangkan dalam bahasa Inggris, craft dan seni barasal dari bahasa Belanda, yaitugenie, sedang dalam bahasa Latin, yaitu genius. Genius adalah orang yang sejak lahirnya sudah membawa keunggulan atau kemampuan luar biasa. Jadi, istilah seni kriya adalah hasil pekerjaan tangan yang dilakukan oleh orang yang berkemampuan luar biasa.
           Jika ditinjau dari kebendaannya di lingkungan masyarakat ada dua macam seni kriya, yaitu:
a. Seni kriya untuk kebutuhan  fisik
           Seni kriya untuk kebutuhan fisik mempunyai pengertian semua benda guna yang dalam pembuatannya bertujuan untuk melindungi dan menghias diri, misalnya rumah tinggal, alat transportasi, senjata, dan aksesori.
b.  Seni kriya untuk kebutuhan nonfisik
           Seni kriya untuk kebutuhan nonfisik maksudnya benda guna yang dibuat dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat rohani, misalnya untuk upacara keagamaan, upacara adat, seperti candi, kuil, dan rumah ibadah.
Secara fungsional, seni kriya dapat dibedakan menjadi lima macam, yaitu:
a.  Seni kriya yang berfungsi sebagai alat bantu pekerjaan.
b.  Seni kriya yang berfungsi sebagai benda hias.
c.  Seni kriya yang berfungsi sebagia pelindung diri.
d.  Seni kriya yang berfungsi sebagai rumah ibadah.
e.  Seni kriya yang berfungsi sebagai rumah tinggal.
3.  Proses Desain
           Proses desain mempunyai pengertian suatu tata urutan yang ada dalam suatu perencanaan  yang dilakukan secara eksplisit maupun implisit untuk memperoleh bentuk yang diinginkan oleh seorang kriyawan. Dalam hal ini jika seseorang hanya bertindak selaku perencana atau perekayasa disebut desainer. Wujud desain dalam hal ini dapat dibagi menjadi dua yaitu:
a.   Desain struktural
           Desain adalah suatu perencanaan yang dilakukan sebagai tidak lanjut dari adanya ide atau gagasan dengan mempertimbangkan  segi bentuk, fungsi, dan ergonomik benda tersebut.
           Gambar kerja merupakan tahap terakhir dari proses desain  struktural, gambar dibuat dalam bentuk gambar proyeksi piktoral (axonometri) yang sangat rinci. Dalam proses struktural dikenal adanya prinsip desain (3F), yaitu singkatan dari Form Follow Function. Dalam pengenalan prisip desain  struktural (3F) ini digunakan sebagai dasar pemikiran untuk tujuan  pembentukan seni kriya  dengan mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut:
1)  faktor bahan dan faktor fungsi,
2)  faktor bentuk, faktor komposisi, dan faktor ergonomik.
     Secara ringkas proses desain struktural dapat dilakukan seperti berikut.
1)  Adanya gagasan atau ide.                       3)  Pembentukan skala model bentuk benda.
2)  Tahap pembentukan sketsa rencana.       4)  Membuat gambar kerja.
b.  Desain dekoratif
           Desain dekoratif adalah suatu perencanaan yang dilakukan sebagai tindak lanjut dari ide atau gagasan yang mempunyai tujuan untuk memperindah benda yang direncanakan.
           Dekoratif merupakan kata sifat dari kata dekorasi berasal dari kata decoro (bahasa Latin). Decoro sebenarnya atas dua kata, yaitu de dan coroDe merupakan awalan medalam bahasa Indonesia. Coro artinya hias menurut bahasa Indonesia. Jadi, kata decoro= dekorasi mempunyai pengertian menghias. Dekorasi menurut pengertian secara umum adalah suatu usaha yang dilakukan untuk tujuan memperindah sesuatu.
           Untuk menerapkan desain dekoratif harus mempertimbangkan faktor bentuk atau fungsi, keseimbangan (balance visualize), karakteristik bahan dan teknis penyelesaian. Faktor bentuk benda yang akan dihias merupakan faktor penting yang harus diperhatikan karena untuk menerapkan bentuk-bentuk hias yang akan dibuat sangat tergantung pada bentuk benda tersebut, misalnya sebuah kendi, penerapannya tidak sama dengan bentuk vas bunga, karena pada kendi ada tambahan tempat pancuran air, sedang pada vas bunga kondisi bentuknya polos hanya penerapan hiasannya lebih jelas.
           Desain dekoratif secara teknis penerapannya dapat dilakukan dengan jalan:
1)  Membuat pola terlebih dulu pada kertas atau bahan lain kemudian dibuat pada benda hias, misalnya seni batik dan seni ukir.
2)  Penerapan langsung pada bendanya, misalnya dengan jalan digores dan ditempel, seperti kendi dari tanah liat dan guci keramik.
3)  Tahap perenungan atau mendapatkan ide atau gagasan, perilaku ini disebut dengan tahap kontemplasi.
4)  Kemudian dituangkan dalam bentuk sketsa rencana, yaitu membuat bentuk gambar dengan goresan-goresan yang spontan.
5)  Tahap ketiga adalah tahap skala model merupakan tahap pembentukan yang dilakukan secara cermat. Pada tahap ini gambar dibuat dalam dua macam gambar, yaitu:
a)  Dalam bentu proyeksi ortogonal.
b)  Dalam bentuk proyeksi piktoral atau proyeksi axonometri.
4.  Faktor-Faktor yang Mendasari Penciptaan Seni kriya
           Untuk menciptakan seni kriya yang dapat memenuhi tuntutan kepuasan pencipta maupun pemakai, dasar penciptaannya harus memperhatikan dan menguasai faktor-faktor sebagai berikut:
a.  Faktor kegunaan
           Kegunaan (applied) merupakan faktor yang terpenting pada seni kriya. Hal ini karena titik tolak penciptaan seni kriya adalah kegunaan. Seorang kriyawan jangan sampai terkesima pada segi keindahan saja, sehingga melupakan faktor kegunaan yang akhirnya karya tersebut hanya berfungsi sebagai dekorasi saja.
           Untuk memenuhi faktor kegunaan itu perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut.
1)  Segi kenyamanan (comfortable)
2)  Segi keluwesan (flexibility)
3)  Segi keamanan (safety)
b.  Faktor rasa bahan (karakteristik bahan)
           Rasa bahan (karakteristik bahan) adalah sifat dari suatu bahan, misalnya sifat rotan adalah lentur, logam adalah keras, tanah liat adalah elastis, dan masih banyak lagi.
c.  Faktor tempat
           Pertimbangan tempat di mana karya seni itu diletakkan merupakan faktor yang juga mendapat perhatian. Sebuah meja-kursi makan yang dibuat untuk keperluan rumah tangga tentunya harus berbeda dengan meja-kursi makan untuk restoran besar, yang pertama harus dibuat kecil karena ruang yang tersedia tidak luas dan yang kedua harus dibuat besar karena ruangannya juga luas.
d.  Faktor selera dan agama
           Untuk karya-karya yang bertujuan komersial, faktor selera dan agama merupakan pertimbangan utama. Seorang kriyawan tidak mungkin mendapat pesanan apabila tidak memenuhi selera dan tuntutan agama pemakai. Untuk itu pencitaanya perlu hati-hati dan perlu penyesuaian dengan selera pemakai apabila seni yang dibuatnya untuk memenuhi kepuasan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar