Tampilkan postingan dengan label SENI RUPA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SENI RUPA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juni 2012

REALISME DAN TUMBUHNYA ORGANISASI SENIMAN


vTumbuhnya Organisasi Seniman
      Pada abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-19 sulit di ketahui perkembangan seni lukis dengan media kertas atau kain ( kecuali batik ), selain itu ada beberapa bukti lukisan – lukisan wajah pejabat – pejabat colonial, bangunan – bangunan kantor pemerintahan dan rumah – rumah pejabat, yang semuanya merupakan lukisan pesanan.Baru kemudian menjelang Perang Dunia ke-2 ditandai dengan kedatangan pelukis-pelukis Eropa ke Indonesia seperti Niuwenkamp, Wolter Spies, Rudolf Bonnet yang masing – masing dengan jelas membawa aliran- aliran seni lukis seperti Kubisme, Ekspresionisme, Surialisme atau Simbolisme.
      Raden Saleh, Affandi, Basuki Abdullah dan lainnya, juga mendapat pengaruh darigayagaya lukisan yang dikembangkan oleh pelukis-pelukis Eropa itu. Para kritikus seni mungkin berbeda pendapat dan dapat membela pelukis – pelukis Indonesia dengan mengatakan bahwa mereka tidak terpengaruh oleh pelukis – pelukis Eropa itu, tetapi yang jelas ada masa revolusi bahkan sampai tahun 1960-an jarang sekali buku – buku seni yang masuk ke Indonesia.
    Sesungguhnya perkembangan seni lukis modern di Jawa diawali dengan munculnya “ Kelompok Lima” di Bandung pada tahun 1935 yang merupakan wadah bagi anak – anak muda untuk belajar menggambar dan melukis. “Kelompok Lima “ ini dipimpin oleh Affandi dengan anggota – anggotanya Hendra Gunawan, Barli, Soedarso, dan Wahdi. Mereka tidk mempunyai guru, target lukisannya juga belum jelas, serta masih dalam taraf coba – coba, yaitu dengan praktek menggambar langsung dan mereka juga belum menguasai teknis melukis serta anatomi. Mereka umumnya membuat reproduksi foto – foto, spanduk atau iklan – iklan film
   Pada tahu 1937 di Jakarta dibentuk PERSAGI ( Persatuan Ahli Gambar Indonesia ) yang beranggotakan antara lain Agus Djaja, Emiria Sumarsa, Otto Djaja, Mochtar Apin, dan Soedjojono. Ternyata pada masa pendudukan Jepang keberadaan PERSAGI tetap dipertahankan oleh pemerintah militer Jepang. Jepang mempunyai kepentingan terhadap keberadaan PERSAGI sebagai alat untuk propaganda. Oleh karena itu, kebebasan berekspresi masing – masing seniman mendapat peluang besar untuk berkembang. Pemerintah militer Jepang memprakarsai Pusat Kebudayaan yang di dalamnya antara lain terdapat sarana untuk berkarya seni lukis yang dibagi menjadi tiga kelompok berlatih. Masing – masing kelompok itu dipimpin oleh Basuki Abdullah, S. Soedjojono, dan Soebanto Soerjo Soebandrio. Hal itu yang menyebabkan persagi berpngaruh terhadap perkembangan seni supa di Indonesia.
      Semangat yang dicanangkan Jepang untuk membangun ‘Kebudayaan Timur’ mendapat tanggapan positif. Hal itu terbukti dari keterlibatan para pelukis pribumi dalam membina seni lukis Indonesia. Diantara mereka yang berperanan cukup penting adalah S. Sudjojono, Agus Djaja, dan Affandi yang kemudian memunculkan sejumlah pelukis muda diantaranya Otto Djaja, Henk Ngatung, Hendra Gunawan, Djajengasmoro, Kartono Yudhokusumo, Kusnadi, Sudjana Kerton, Trubus,Baharuddin, dan sejumlah seniman lainnya.Pada tahun yang sama, Djajengasmoro juga mendirikan Pusat Tenaga Pelukis Indonesia yang secara progresif mendukung perjuangan untuk mengusir sisa – sisa kolonialisme Belanda dari bumi Indonesia melalui Lukisan, poster, spanduk dan media lainnya.
     Menginjak tahun 1946 di era kemerdekaan dan Revolusi fisik, para pemimpin perjuangan pada waktu itu memiliki kesadaran bahwa seni lukis dapat berperan dalam mendukung dan mendokumentasikan perjuangan. Hal itu ditunjukkan oleh hijrahnya sejumlah pelukis bersama jajaran pemerintahan pusat dari Jakarta ke Yogyakarta. Pada tahun 1946 itu pula, Affandi, Rusli, Hendra, dan Harijadi membentuk Perkumpulan Seni Rupa Masayarakat. Kemudian mereka bergabung dengan Sudjojono untuk mendirikan organisasi Seniman Indonesia Muda ( SIM ) pada tahun 1947.
   Keanggotaan SIM meluas dengan masuknya sejumlah seniman seperti Abdul Salam, Sudibio, Kartono Yudhokusumo, Oesman Effendi, Srihadi Sudarsono, Zaini, dan lain – lain.kelak sebagian besar anggota SIM ini menjadi seniman terkemuka Indunesia. Dalam mendukung perjuangan bangsa Indonesia, para anggota SIM giat membuat lukisan dan poster bertema perjuangan serta menerbitkan majalah kebudayaan bernama ‘Seniman’ yang kemudian menarik para penulis seperti Anas Maarui, Trisno Sumardjo, Wiratmo Sukito, Usmar Ismail, dan lainnya.
   Namun karena selisih paham, pada tahun 1947, Hendra Gunawan dan Affandi meninggalkan SIM dan mendirikan ‘Pelukis Rakyat’. Kemudian bergabung pula Sudarso Setjojoto, Kusnadi, Trubus Soedarsono, Sumitro, Saaongko, dan lain –lainnya. Parapelukis yang tergabung dalam SIM dan para pelukis yang tidak seidiologi memisahkan diri dan bergabung dengan Gabungan Pelukis Ideologi (GPI) yang didirikan oleh Affandi dan Sutiksna di Jakarta pada tahun 1948. Di antaranya adalah Oesman Effendi dan Zaini. Sekitar tahun 1949 seniman – seniman muda, seperti Abas Alibasjah, Sajono, Edhi Soenarso, Rustamadji, Juski Hakim, Chairul Bachri, Sutopo, Ali Marsaban, Nasir Bondan, Sasongko, Djoni Trisno, dan beberapa seniman lainnya bergabung mendirikan sanggar yang bertujuan memberikan kesempatan bagi seniman – seniman muda untuk mengembangkan bakat – bakatnya. Tema – tema perjuangan pada masa revolusi  dan kebebasan berekspresi tanpa terikat dengan kaidah – kaidah tertentu pada masa sesudah revolusi mewarnai perkembangan seni lukis di Indonesiayang sudah berkembang kea rah profesi baru .
      Pada tahun 1950, Kusnadi, Sumitro, Sasongko memisahkan diri dari ‘Pelukis Rakyat’ dan bergabung dengan ‘Pelukis Indonesia’ yang anggotanya antara lain Bagong Kusudiardjo dan Sholihin.
   Selain di Yogyakarta, perkumpulan pelukis juga didirikan di kota – kota besar lain.Seperti ‘Jiva Mukti’ yang dibentuk pada tahun 1948 dengan anggota antara lain Barli, Mochtar Apin, Karnedi, dan lain – lain.Pada tahun 1952 di Bandung didirikan pula ‘Sanggar Seniman’ oleh But Muchtar, Srihadi, A.D.Pirous, Kartono Yudhokusumo, dan kawan – kawan.
      Kemudian di Surabaya dibentuk ‘Pelangi’ pada tahun 1947 oleh Suiarko. Di Jakarta didirikan Yayasan Seni dan Desain oleh Oesman Effendi, Trisno Sumardjo, Zaini pada tahun 1958. ‘Matahari’ didirikan oleh Mardian, Wakidjan, Nashar, Alex Wetik. Kemudian di Yogyakarta sendiri berdiri ‘Sanggar Bambu’ yang dibentuk oleh Muljadi, Handogo, Danarto, dan kawan – kawan pada tahun 1959. Masih banyak lagi perkumpulan seniman bermunculan di berbagai kota besar sebagai pusat para pelukis bekerja dan bertukar pikiran.
      Pada tahun 1970-an ketika “ Boom Lukisan” mewarnai jagad seni lukis di Indonesia, telah mengantarkan para seniman lukis ke pintu ujian citra berkesenian mereka. Affandi dan Basuki Abdullah mampu mengimbangkan tuntunan pasar dengan kreativitas dan mutu keseniannya tetap berdiri kokoh sebagai “ Maestro” sementara itu beberapa seniman lukis jatuh pada kepentingan pasar yang sekedar hanya melukis.
      Gaya dan muatan estetik karya seni rupa pada masa berikutnya memiliki kecenderungan :
ü mengungkapkan objek secara emosional ( ‘Realisme’ ) yang dicirikan terdapatnya upaya ubahan bentuk, proporsi, ataupun warna, dan kerap terjadinya distorsi karena ungkapan yang emosional tersebut. Tema yang dipilih, dapat berupa tema keseharian, perjuangan, penderitaan rakyat ataupun kritik terhadap situasi.  
ü lukisan yang lahir dari dunia fantasi berupa citra mimpi, mitos, legenda, mistis, dunia supranatural, luar akal, satir, naïf, simbolis, dam sebagainya.
ü memiliki kecenderungan bersifat dekoratif menampilkan berbagai objek alam, daun, bunga, wanita, binatang yang dibuat secara ‘ornamental’, rinci, dan kerap bersifat dua dimensional seperti lukisan tradisional Bali.
   Perkembangan seni lukis di Indonesia akhir – akhir ini semakin marak dengan munculnya seniman – seniman lukis “baru” baik itu dari kalangan birokrat, militer, kaum professional, ibu – ibu pejabat maupun konglomerat.

v Realisme Kerakyatan di Yogyakarta
               Sejak Revolusi Fisik tahun 1946 dan kepindahan ibu kota ke Yogyakarta, sejumlah pelukis juga ikut hijrah ke Yogyakarta. Para pelukis yang hijrah ini kemudia menetap di Yogyakarta dan banyak berkarya dengan tema – tema perjuangan. Setelah situasi nasional mulai membaik dan pusat pamerintahan dikembalikan ke Jakarta, para pelukis yang tinggal di Yogyakarta ini mulai melukis dengan tema – tema yang mengkritik perkembangan keadaan social yang timpang. Gaya yang dianut oleh sejumlah pelukis Yogya tersebut dikenal sebagai Realisme Kerakyatan. Adapula yang menyebutnya sebagai Realisme Sosial.
               Para pelukis tersebut mendirikan organisasi seniman pada tahun 1950 yang dikenal sebagai “ Pelukis Rakyat”. Organisasi ini semakin berkembang karena memiliki hubungan erat dengan tokoh pemerintahan, sehingga memperoleh banyak pesanan karya lukisan, patung, dan relief untuk gedung – gedung pemerintahan. Selain itu, perkumpulan inipun memiliki hubungan yang erat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat ( LEKRA ) yang didirikan pada tahun 1950. Pada waktu itu lembaga ini amat berpengaruh dalam menentukan arah kebudayaan nasional.
               Kepedulian para seniman Yogyakarta terhadap penderitaan masyarakat amatlah tinggi. Hingga, pada periode selanjutnya ‘jiwa kritis’ yang telah menjadi cirri seniman Yogya pada umumnya tetap tumbuh pada sejumlah seniman generasi baru. Merika tetap konsisten mengekspresikan fenomena social yang terjadi di sekitarnya.

v Mazhab Bandung
   Sejak didirikannya Balai Pendidikan Guru Gambar dilingkungan Technise Hogeschool ( sekarang ITB ) pada tahun 1949 di Bandung, berkembanglah seni rupa lingkungan akademis. Pada tahun 1953, atas bimbingan Reis Mulder seorang pelukis belanda, Achmad Sadali, Hut Mukhtar, Mokhtar Apin, dan para mahasiswa lainnya melakukan experiment dengan merombak objek likisan ke menjadi pola geometris dan membagi bagi bidang datar sesuai dengan komposisi garis dan warna. Meskipun demikian objek lukisannya masih terlihat samar seperti halnya objek gambar dilihat melalui tabir kaca kristal. Pada waktu yang sama Oesman Effendi juga melakukan hal yang sama di JakartaGaya semacam ini juga pengujian menjadi ciri khas para pelukis yang belajar di ITB. Kelompok ini, oleh sejumlah peukis beraliran Realisme dianggap sebagai gaya estetis hasil ‘ Laboratorium Barat’.
   Selanjutnya, berkembang gaya abstrak di lingkungan seniman ITBGaya ini dapat dikategorikan atas dua kelompok :
1.  Gaya abstrak tanpa objek, tetapi lebih menekankan kepada olah bahasa rupa dan imajinasi si pelukis. Gaya lukisan abstrak ini amat variatif, mulai dari model pengamatan bumi dilihat dari angkasa, detil tebing yang mengalami korosi, pelapukan batang kayu, permainan bidang geometris, ataupun hanya experiment berdasar imaji rupa si pelukis.
2.  Adalah abstrak non-figuratif, berupa bentuk – bentuk figure yang mengalami pengabstrakan. Dalam beberapa segi masih terlihat unsure figure yang dijadikan objek, namun terlihat samara atau bermakna konotatif meskipun telah mengalami perubahan bentuk dari wujud aslinya.
  Pada tahun 1963, Achmad Sadali mulai meningkatkan teknik melukisnya melalui penggunaan warna akrilik dan permainan tekstur yang dibentuk melalui penggelembungan, penempelan, penyobekan, pengikisan, pengirisan, pengelupasan, dan pelbagai teknik melukis yang tidak lazim di zamannya. Kemudian diikuti oleh penggunaan warna emas, kaligrafi Arab, symbol – symbol geometris pegunungan, juga tempelan kain pada bidang kanvas. Lahinya lukisan tiga dimensional berupa penempelan bantalan merupakan gaya yang lahir dari experiment nya yang tak pernah habis. Selanjutnya ia menerapkan cara melukis sapuan kuas tipis horizontal yang diilhami oleh pelukis Matt Rotkho. Ini kemudian menjadi cirri khas lukisan – lukisannya.
  Gaya seni lukis abstrak, meskipun tak sepenuhnya merujuk pada gaya yang dikembangkan oleh Achmad Sadali sempat menjadi kecenderungan para pelukis akademik di kota Bandung. Hal itu seperti terlihat pada lukisan A.D. Pirous, Umi Dachlan, dan Heyi Makmun sebagai generasi yang labih muda.
  Di era 1970-an, para pelukis Bandung mengembangkan gaya abstrak tersendiri yang lebih ekspresif dengan objek yang masih dapat ‘terbaca’. Beberapa pelukis tersebut antara lain Popo Iskandar dan Srihadi Sudarsono. Sebagian lagi tetap konsisten dengan gaya abstrak yang lebih rasionalistis , kemudian dikenal sebagaigaya abstrak geometris. Beberapa diantaranya adalah Mochtar Apin, But Muhtar dan Rita Widakdo dalam seni patung.
  Sunaryo, G. Sidharta, Hariadi Suadi, T. Sutanto, dan lain – lain pada kurun tahun 1970 – 1980-an mulai memadukan citra seni rupa tradisional pada beberapa karyanya yang masing – masing memiliki keunikan sendiri – sendiri. Sunarya mengeksplorasi citra Irian pada patung – patungnya, G. Sidharta mengeksplorasi citra “ Jawa” pada patung – patungnya, dan Hariadi Suadi mengeksplorasi citra mistik “ Cirebon” pada karya cetak saring
  “Mordenisme” di Bandung atau “Mazhab Bandung” dalam dunia kesenirupaan generasi berikutnya, mencoba mengawinkan antara unsure geometris dengan citra tradisional, unsur mistis dan material alami. Hal itu bisa terlihat pada diri Sunaryo dengan pencitraan “ Irian”, hariadi Suardi dengan pencitraan “Cirebonan”, Sutanto dengan karya grafis bercitra mistis, serta Setiawan Sabana dengan unsure pelapukan dan citra material alam.       

Prinsip Seni Rupa


Oleh: I Made Suparta, Dosen PS Kriya Seni ISI Denpasar
Prinsip-prinsip seni rupa adalah cara penyusuan, pengaturan unsur-unsur rupa sehingga membentuk suatu karya seni. Prinsip Seni Rupa dapat juga disebut asas seni rupa, yang menekankan prinsip desain seperti: kesatuan, keseimbangan, irama, penekanan, proporsi dan keselarasan. Desain atau yang dulu diistilahkan dengan sebutan nirmana sebenarnya secara meteri  tidak ada perubahan yang mendasar, karena semua prinsip tersebut masih seperti semula.
1. Prinsip Kesatuan
Untuk mendapatkan suatu kesan kesatuan yang lazim disebut unity memerlukan prinsip keseimbangan, irama, proporsi, penekanan dan keselarasan. Antara bagian yang satu dengan yang lain merupakan suatu kesatuan yang utuh, saling mendukung dan sistematik membentuk suatu karya seni. Dalam penerapannya pada bidang  karya seni rupa/kriya prinsip kesatuan menekankan pada pengaturan obyek atau komponen obyek secara berdekatan atau penggerombolan unsur atau bagian-bagian. Dalam kekriyaan pengaturan ini bisa dilakukan atau dapat dilakukan dengan cara permainan teknik pahatan, memformulasikan obyek, subyek, dan isian-isian pada suatu bidang garapan.
2. Prinsip Keseimbangan
Prinsip keseimbangan berkaitan dengan bobot. Pada karya dua dimensi prinsip keseimbangan ditekankan pada bobot kualitatif atau bobot visual, artinya berat – ringannya obyek hanya dapat dirasakan. Pada karya tiga dimensi prinsip keseimbangan berkaitan dengan bobot aktual (sesungguhnya). Keseimbangan ada dua yaitu: Simetris dan asimetris. Selain dua keseimbangan itu ada juga yang namanya keseimbangan radial atau memancar yang dapat diperoleh dengan menempatkan pada pusat-pusat bagian. Pencapaian keseimbangan tidak harus menempatkan obyek secara simetris atau di tengah-tengah. Keseimbangan juga dapat diperoleh antara penggerombolan dengan obyek-obyek yang berukuran kecil dengan penempatan sebuah bidang yang berukuran besar. Atau mengelompokkan beberapa obyek yang berwarna ringan (terang) dengan sebuah obyek berwarna berat (gelap).
3. Prinsip Irama
Irama dalam karya seni dapat timbul jika ada pengulangan yang teratur dari unsur yang digunakan. Irama dapat  terjadi pada karya seni rupa dari adanya pengaturan unsur garis, raut, warna, teksture, gelap-terang secara berulang-ulang. Pengulangan unsur bisa bergantian yang biasa disebut irama alternatif. Irama dengan perubahan ukuran (besar-kecil) disebut irama progresif. Irama gerakan mengalun atau Flowing dapat dilakukan secara kontinyu (dari kecil ke besar) atau sebaliknya. Irama repetitif adalah pengulangan bentuk, ukuran, dan  warna yang sama (monotun).
4.  Prinsip Penekanan
Pada seni rupa  bagian yang menarik perhatian menjadi persoalan/masalah prinsip penekanan yang lebih sering             disebut prinsip dominasi. Dominasi pada karya seni rupa dapat dicapai melalui alternatif  melalui memggerombolkan beberapa unsur, pengaturan  yang  berbeda, baik ukuran atau    warnanya. Seperti misalnya gambar orang dewasa pada sekelompok anak kecil, warna merah di antara warna kuning. Penempatan dominasi tidak mesti di tengah-tengah, walaupun posisi   tengah menunjukkan kesan stabil.
Penekan atau pusat perhatian atau juga disebut obyek suatu karya/garapan adalah karya yang dibuat berdasarkan prioritas utama. Karya yang diciptakan paling awal tersebut lebih menonjol dari berbagai segi obyek pendukungnya seperti ukuran, teknik, dan pewarnaannya. Dalam seni kriya, penciptaan suatu karya dinominasi menjadi tiga bagian; I. obyek ciptaan. 2. obyek pendukung dan 3.  isian-isian.  Obyek ciptaan mendapat perhatian yang prioritas dan dominan karena akan dijadikan pusat perhatiannya. Obyek pendukung yang dimaksudkan adalah bentuk-bentuk yang dibuat agar tidak sama persis dengan obyek ciptaan, karena sifatnya sebagai pendukung. Sedangkan isian-isian adalah obyek yang memberikan aksen terhadap kedua obyek ciptaan. Atau memberi pola/motif pada bidang-bidang tertentu untuk memunculkan obyek ciptaan.
5.  Prinsip Proporsi
Proporsi adalah perbandingan antara bagian-bagian yang satu yang lainnya dengan pertimbangan seperti: besar-kecil, luas-sempit, panjang-pendek, jauh –dekat  dan yang lainnya. Dalam seni rupa kriya, perbandingan ini mempertimbangkan seperti bidang gambar dengan obyeknya. Yang juga memjadi perbandingan dalam seni rupa kriya  adalah skala maupun riil/aktual. Berdasarkan kondisi riil, botol lebih tinggi dari pada gelas atau piring lebih lebar dari pada mangkok. Proporsi juga digunakan untuk membedakan obyek utama (tokoh), pendukung (figuran), dan isian-isian (pendukung/latar).
6. Prinsip keselarasan
Prinsip ini juga disebut prinsip harmoni atau keserasian. Prinsip ini timbul karena ada kesamaan, kesesuaian, dan tidak adanya   pertentangan. Selain penataan bentuk, teksture, atau warna-warna yang berdekatan (analog). Kalau dalam karya ada warna-warna yang berlawanan (komplementer) harus dicarikan warna pengikat/sunggingan seperti warna putih.
Untuk Memberikan komentar gunakan Fasilitas Forum > Berita. Fasilitas ini dapat diakses melalui alamat: http://forum.isi-dps.ac.id

Seni Kriya



 Klasifikasi Karya Seni Rupa
           Keragaman seni rupa etnis dari masing-masing daerah di wilayah Nusantara mengalami perkembangan yang pesat secara teoritis, berdasarkan fungsi aplikasinya seni rupa Nusantara dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu seni rupa murni estetis (fine art) dan seni rupa yang dimanfaatkan untuk macam-macam kepentingan praktis (applied art use).
a.  Karya seni rupa murni (Fine art)
           Pengertian seni rupa murni, yaitu sebuah ekspresi, penjabaran, atau pengungkapan pikiran sekaligus perasaan, cita-cita yang hasil karyanya semata-mata hanya memberikan kepuasan batiniah atau rohaniah.
           Tujuan pokok penciptaan seni murni adalah untuk kepentingan estetis atau tujuan ekspresi dan apresiasi tanpa dikaitkan dengan kebutuhan praktis. Oleh karena itu, seni rupa murni diciptakan semata-mata untuk ekspresi bagi kepentingan estetis dan bukan untuk hal-hal lain yang berkaitan dengan fungsional praktis. Jenis karya seni rupa yang termasuk dalam karya seni rupa murni antara lain:
1)         Seni lukis
2)  Seni patung
3)  Seni grafis
4)  Seni kriya
b.        Seni rupa terapan (Applied art)
           Karya seni rupa yang digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari dan bentuk karyanya tetap memiliki nilai-nilai estetik disebut seni rupa terapan. Pembuatan karya seni rupa terapan selalu mempertimbangkan dua hal sekaligus, yaitu nilai keindahan dan nilai fungsional.
           Ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam proses pembuatan karya seni terapan di antaranya adalah hasil karya tersebut harus fungsional. Artinya, karya seni itu dapat dipakai untuk kepentingan praktis. Bentuk karya seni itu pun perlu disesuaikan dengan fungsinya. Sebagai contoh ketika membuat wadah untuk benda-benda yang keras, tentu aspek bentuk yang menjadi pertimbangan akan berbeda ketika membuat rancangan untuk sebuah wadah benda cair.
           Karya seni rupa terapan antara lain seni dekorasi, seni bangunan, seni ilustrasi, seni grafis terapan, dan seni kriya terapan.
2.  Pengertian Seni Kriya
           Jika ditinjau dari bahasa, kriya adalah pekerjaan yang dilakukan dengan tangan, sedangkan dalam bahasa Inggris, craft dan seni barasal dari bahasa Belanda, yaitugenie, sedang dalam bahasa Latin, yaitu genius. Genius adalah orang yang sejak lahirnya sudah membawa keunggulan atau kemampuan luar biasa. Jadi, istilah seni kriya adalah hasil pekerjaan tangan yang dilakukan oleh orang yang berkemampuan luar biasa.
           Jika ditinjau dari kebendaannya di lingkungan masyarakat ada dua macam seni kriya, yaitu:
a. Seni kriya untuk kebutuhan  fisik
           Seni kriya untuk kebutuhan fisik mempunyai pengertian semua benda guna yang dalam pembuatannya bertujuan untuk melindungi dan menghias diri, misalnya rumah tinggal, alat transportasi, senjata, dan aksesori.
b.  Seni kriya untuk kebutuhan nonfisik
           Seni kriya untuk kebutuhan nonfisik maksudnya benda guna yang dibuat dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat rohani, misalnya untuk upacara keagamaan, upacara adat, seperti candi, kuil, dan rumah ibadah.
Secara fungsional, seni kriya dapat dibedakan menjadi lima macam, yaitu:
a.  Seni kriya yang berfungsi sebagai alat bantu pekerjaan.
b.  Seni kriya yang berfungsi sebagai benda hias.
c.  Seni kriya yang berfungsi sebagia pelindung diri.
d.  Seni kriya yang berfungsi sebagai rumah ibadah.
e.  Seni kriya yang berfungsi sebagai rumah tinggal.
3.  Proses Desain
           Proses desain mempunyai pengertian suatu tata urutan yang ada dalam suatu perencanaan  yang dilakukan secara eksplisit maupun implisit untuk memperoleh bentuk yang diinginkan oleh seorang kriyawan. Dalam hal ini jika seseorang hanya bertindak selaku perencana atau perekayasa disebut desainer. Wujud desain dalam hal ini dapat dibagi menjadi dua yaitu:
a.   Desain struktural
           Desain adalah suatu perencanaan yang dilakukan sebagai tidak lanjut dari adanya ide atau gagasan dengan mempertimbangkan  segi bentuk, fungsi, dan ergonomik benda tersebut.
           Gambar kerja merupakan tahap terakhir dari proses desain  struktural, gambar dibuat dalam bentuk gambar proyeksi piktoral (axonometri) yang sangat rinci. Dalam proses struktural dikenal adanya prinsip desain (3F), yaitu singkatan dari Form Follow Function. Dalam pengenalan prisip desain  struktural (3F) ini digunakan sebagai dasar pemikiran untuk tujuan  pembentukan seni kriya  dengan mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut:
1)  faktor bahan dan faktor fungsi,
2)  faktor bentuk, faktor komposisi, dan faktor ergonomik.
     Secara ringkas proses desain struktural dapat dilakukan seperti berikut.
1)  Adanya gagasan atau ide.                       3)  Pembentukan skala model bentuk benda.
2)  Tahap pembentukan sketsa rencana.       4)  Membuat gambar kerja.
b.  Desain dekoratif
           Desain dekoratif adalah suatu perencanaan yang dilakukan sebagai tindak lanjut dari ide atau gagasan yang mempunyai tujuan untuk memperindah benda yang direncanakan.
           Dekoratif merupakan kata sifat dari kata dekorasi berasal dari kata decoro (bahasa Latin). Decoro sebenarnya atas dua kata, yaitu de dan coroDe merupakan awalan medalam bahasa Indonesia. Coro artinya hias menurut bahasa Indonesia. Jadi, kata decoro= dekorasi mempunyai pengertian menghias. Dekorasi menurut pengertian secara umum adalah suatu usaha yang dilakukan untuk tujuan memperindah sesuatu.
           Untuk menerapkan desain dekoratif harus mempertimbangkan faktor bentuk atau fungsi, keseimbangan (balance visualize), karakteristik bahan dan teknis penyelesaian. Faktor bentuk benda yang akan dihias merupakan faktor penting yang harus diperhatikan karena untuk menerapkan bentuk-bentuk hias yang akan dibuat sangat tergantung pada bentuk benda tersebut, misalnya sebuah kendi, penerapannya tidak sama dengan bentuk vas bunga, karena pada kendi ada tambahan tempat pancuran air, sedang pada vas bunga kondisi bentuknya polos hanya penerapan hiasannya lebih jelas.
           Desain dekoratif secara teknis penerapannya dapat dilakukan dengan jalan:
1)  Membuat pola terlebih dulu pada kertas atau bahan lain kemudian dibuat pada benda hias, misalnya seni batik dan seni ukir.
2)  Penerapan langsung pada bendanya, misalnya dengan jalan digores dan ditempel, seperti kendi dari tanah liat dan guci keramik.
3)  Tahap perenungan atau mendapatkan ide atau gagasan, perilaku ini disebut dengan tahap kontemplasi.
4)  Kemudian dituangkan dalam bentuk sketsa rencana, yaitu membuat bentuk gambar dengan goresan-goresan yang spontan.
5)  Tahap ketiga adalah tahap skala model merupakan tahap pembentukan yang dilakukan secara cermat. Pada tahap ini gambar dibuat dalam dua macam gambar, yaitu:
a)  Dalam bentu proyeksi ortogonal.
b)  Dalam bentuk proyeksi piktoral atau proyeksi axonometri.
4.  Faktor-Faktor yang Mendasari Penciptaan Seni kriya
           Untuk menciptakan seni kriya yang dapat memenuhi tuntutan kepuasan pencipta maupun pemakai, dasar penciptaannya harus memperhatikan dan menguasai faktor-faktor sebagai berikut:
a.  Faktor kegunaan
           Kegunaan (applied) merupakan faktor yang terpenting pada seni kriya. Hal ini karena titik tolak penciptaan seni kriya adalah kegunaan. Seorang kriyawan jangan sampai terkesima pada segi keindahan saja, sehingga melupakan faktor kegunaan yang akhirnya karya tersebut hanya berfungsi sebagai dekorasi saja.
           Untuk memenuhi faktor kegunaan itu perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut.
1)  Segi kenyamanan (comfortable)
2)  Segi keluwesan (flexibility)
3)  Segi keamanan (safety)
b.  Faktor rasa bahan (karakteristik bahan)
           Rasa bahan (karakteristik bahan) adalah sifat dari suatu bahan, misalnya sifat rotan adalah lentur, logam adalah keras, tanah liat adalah elastis, dan masih banyak lagi.
c.  Faktor tempat
           Pertimbangan tempat di mana karya seni itu diletakkan merupakan faktor yang juga mendapat perhatian. Sebuah meja-kursi makan yang dibuat untuk keperluan rumah tangga tentunya harus berbeda dengan meja-kursi makan untuk restoran besar, yang pertama harus dibuat kecil karena ruang yang tersedia tidak luas dan yang kedua harus dibuat besar karena ruangannya juga luas.
d.  Faktor selera dan agama
           Untuk karya-karya yang bertujuan komersial, faktor selera dan agama merupakan pertimbangan utama. Seorang kriyawan tidak mungkin mendapat pesanan apabila tidak memenuhi selera dan tuntutan agama pemakai. Untuk itu pencitaanya perlu hati-hati dan perlu penyesuaian dengan selera pemakai apabila seni yang dibuatnya untuk memenuhi kepuasan.